Sabtu, 05 Januari 2013

Semua Orang Minang Beragama Islam [?]

Cinta Tapi Beda

Baru-baru ini ramai diberitakan baik di media massa maupun di situs jejaring sosial, film terbaru karya sutradara terkenal Hanung Brahmatyo: Cinta Tapi Beda. Film yang sudah tayang di bioskop sejak 27 Desember lalu ini tersandung masalah karena dipersoalkan oleh mahasiswa Minang. Mahasiswa Minang menggugat Hanung selaku sutradara film dan menuntut agar film tersebut ditarik dari bioskop-bioskop di seluruh Indonesia. Film ini menjadi persoalan lantaran cerita film tersebut dinilai menyimpang dari falsafah Adat Basyandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah yang diakui masyarakat Minang.

Film yang dibintangi Agni Pratistha, Reza Nangin, dan Choky Sitohang ini mengangkat cerita seorang gadis Minang bernama Diana yang beragama Katolik. Diceritakan, Diana, penganut Katolik taat, berpacaran dan mau menikah dengan Cahyo, laki-laki Jawa-muslim yang taat. Tetapi dalam cirita itu ibu, tante, dan om Diana tidak setuju orang Minang Katolik kawin dengan orang yang beda agama. Akhirnya Diana dijodohkan dengan laki-laki Minang, yang juga beragama Katolik, bernama Oka, yang berprofesi sebagai dokter.

Salah seorang teman saya yang juga bersuku Minang, sempat nge-share link berita terkait film ini. Teman saya malah mengatakan film ini sebagai salah satu pembodohan, Baginya sangat tidak pantas seorang Hanung Brahmantyo membuat tokoh seorang gadis Minang yang beragama non muslim. "Sangat salah kaprah!"

Tapi bagi saya yang notabene sempat lama tinggal di bumi Minang (meskipun bukan orang Minang), awalnya agak menyayangkan sikap mereka-mereka yang menggugat film ini. Karena menurut saya pada dasarnya tidak ada yang salah dengan film tersebut. Hal yang dipersoalkan oleh banyak orang kan cuma status seorang gadis Minang yang beragama Katolik. Memang benar kalau menurut falsafah hidup orang Minang Kabau: Adat Basandi Sayara, Syara Basandi Kitabullah, yang artinya adalah landasan hidup orang Minang adalah Al-Qur'an dan Sunah Rasul. Tapi persoalannya adalah apakah benar saat ini semua orang Minang itu beragama
Islam?

Pemurdatan di Minang Kabau

Saya sempat bertanya seperti itu karena teringat dengan sebuah peristiwa besar yang melanda Sumatera Barat tahun 2000 silam. Waktu itu saya masih duduk di bangku kelas 6 SD, dan Sumatera Barat tengah diguncang dengan isu pemurdatan. Saat itu ramai diberitakan baik di media massa setempat, maupun selebaran-selabran berita di surau/masjid, bahwa upaya pemurdatan orang Minang oleh para/lembaga-lembaga misionaris telah menyebar ke berbagai penjuru Sumatera Barat. Dan menurut berita tersebut, Padang adalah wilayah yang paling banyak terjadi upaya pemurdatan. Merujuk kepada data Paga Nagari, sebuah LSM anti pemurdatan, upaya pemurdatan telah terjadi di Sumatera Barat semenjak tahun 1970. Berbagai cara dilakukan oleh para misionaris dalam melaksanakan aksi pemurtadan, dari cara yang paling halus sampai cara yang kasar.

Pemurtadan atau kristenisasi di Sumatera Barat itu menurut Prof Dr M Din Syamsuddin, Sekjen DPP MUI Pusat, yang juga Ketua Umum PP Muhammadiyah, — bahwa Sumatera Barat menduduki tempat PERTAMA sebagai PENYUMBANG terbanyak para MURTADIN di Indonesia dan sesudahnya baru: Jawa Barat, Banten, dan Lampung. Pernyataan itu disebut Pak Din Syamsuddin tatkala acara HALAL BI HALAL di Gedung Bagindo Aziz Chan, Padang, pada hari Sabtu tanggal 18 Desember 2004/ 1424 H.

Upaya-upaya pemurdatan itu terus berlangsung hingga saat ini. Dan yang paling mengejutkan adalah murtadin yang merupakan orang Minang asli asal Payakumbuh, yakni Akmal Sani. Murtadin yang saat ini sudah menjadi pendeta ini turut mendukung berdirinya persekutuan Kristen Sumbar dan menerbitkan Injil berbahasa Minang, baik di rantau maupun kampung halaman. Akmal Sani dalam khutbahnya mengatakan, kita harus menjadikan Minangkabau, Adat dan Syara Basandi Injil.

Adaik Yang Sabana Adaik

Berdasarkan data di atas, bisa saja kita tarik kesimpulan bahwasannya tidak semua orang Minang saat ini beragama Islam bukan. Dan mungkin saja data tersebut yang menjadi dasar bagi Hanung untuk membuat tokoh Diana. Tapi permasalahannya adalah apakah orang Minang yang sudah tidak beragama Islam atau keluar dari agama Islam masih boleh atau pantas disebut dengan orang Minang?

Saya kembali teringat dengan sebuah mata pelajaran muatan lokal  yang saya pelajari waktu masa Sekolah Dasar. Mata pelajaran itu dinamakana Budaya Alam Minang Kabau (BAMK). Pada mata pelajaran tersebut dijelaskan bahwa di Minang Kabau adat itu terbagi empat bagian atau desebut juga dengan “Adaik nan ampek” (adat yang empat). Salah satu dari keempat adat tersebutadalah Adaik nan sabana Adaik (Adat yang sebenarnya adat). Adat ini merupakan adat yang paling utama yang tidak dapat dirubah sampai kapanpun. Dia merupakan harga mati bagi seluruh masyarakat Minang Kabau, tidaklah bisa dikatakan dia orang Minang apabila tidak melaksanakan Adat ini dan akan dikeluarkan dia dari orang Minang apabila meninggalkan adat ini. Adat ini yang paling perinsipil adalah bahwa seorang Minang wajib beragama Islam dan akan hilang Minangnya kalau keluar dari agama Islam.

Jadi jelas sudah mengapa orang Minang yang keluar dari agama Islam tidak layak disebut dengan sebutan Minang lagi. Dan kalo ada yang beranggapan dengan diterapkannya adat ini menjadikan orang Minang sebagai kaum yang tidak toleran, bagi saya itu adalah salah besar. Orang Minang adalah orang yang sangat toleran. Buktinya di Sumatera Barat jarang sekali terjadi konflik horizontal yang berbau agama. Semua orang hidup berdampingan dengan damai. Contoh kecilnya adalah ketika saya SMA dulu. Pada zaman saya dulu SMA, setiap siswi sekolah negeri, baik SMA dan SMK diwajibkan untuk mengenakan baju seragam putih abu-abu dengan model menyerupai baju kurung disertai  dengan jilbab. Namun untuk siswi non muslim diperbolehkan untuk tidak mengenakan jilbab.Bagi saya ini adalah salah satu  bentuk toleransi yang tinggi. Sekolah dan Depdikbud menghormati siswi non muslim dengan membebaskan mereka untuk tidak mengenakan jilbab, dan sang siswi menghormatinya dengan mengenakan baju seragam dengan model baju kurung tersebut.

Mengada-ada

Akhirnya saya paham dan mengerti kenapa teman-teman mahasiswa Minang langsung bereaksi  dan ramai-ramai menuntut penarikan film Cinta Tapi Beda ini dari bioskop-bioskop di tanah air. Karena memang film ini sudah salah kaprah, dan sangat tidak sesuai dengan fakta yang ada. Hanung Brahmantyo  salah besar telah membuat film dengan memasukan  tokoh gadis Minang yang beragama non Islam. Sangat fatal dan telah menyinggung hal yang apling prinsipil bagi tidak hanya teman-teman mahasiswa Minang, tetapi juga “semua warga Minang”.




Disclaimer

Tulisan ini saya buat tidak bermaksud untuk menyudutkan atau mendiskreditkan salah satu kelompok masyarakat atau agama. Saya paham betul membuat tulisan dengan menyingung SARA sangat rentan dengan kritikan dan bahkan dapat menimbulkan permasalahan di kemudian hari. Untuk itu perlu saya tegaskan, di sini saya mencoba untuk menjelaskan permasalahan berdasarkan fakta yang ada dari kacamata saya pribadi. Karena pada dasarnya saya hanyalah manusia biasa yang terkadang sering berbuat salah. Maka dengan ini saya mohon maaf jika sekiranya tulisan saya ngawur. Kritikan dan masukan dari anda sangat saya perlukan. Terima kasih  :)




1 komentar:

  1. saya mau bertanya apa bila nama seseorang yang mencantumkan salah suku dari minang kabau misal budi koto,agus chaniago dll nya berarti kan memberitahukan bahwa dia orang minang yang bersuku seperti yang tertera di nama nya...sedangkan kita tau bahwa minang itu beragama islam...bagai mana jika nama chaniago itu di pakai oleh ornag kristen atau yang beragama lain?apa tanggapan ninik mamak dan alim ulama...soal nya kalau tidak di perjelas bisa jadi makin rancu...bisa saja orang2 non muslim memberi nama anak nya dengan salah satu suku minang...agar orang mengira bahwa dia adalah orang minang yang non muslim...mau di kemanakan pepatah lama???

    BalasHapus

Arsip Blog

Mengenai Saya

Foto Saya

I'm a Creative Junkie who Love Caffeine but Say No to Nicotine :)

GOTHELLICIOUS

GOTHELLICIOUS
My Twitter Account